Crypto  

Harga Bitcoin Anjlok Ke Level 20.000 Dolar AS, Dampak Inflasi Amerika Serikat

Harga Bitcoin Anjlok Ke Level 20.000 Dolar AS, Dampak Inflasi Amerika Serikat

PETIKNET, NEW YORK – Pergerakan pasar kripto yang dipimpin turun tajam, setelah pemerintah Amerika merilis data laporan yang melesat jauh dari perkiraan investor.

Data Rilisnya inflasi bulanan di Amerika yang meleset lebih tinggi dari prediksi ekonom, tak hanya memicu risiko sentimen pasar namun juga telah membuat pergerakan reli runtuh terdorong aksi jual massal yang dilakukan investor pada awal pembukaan perdagangan Rabu (14/9/2022) .

Dengan Bitcoin yang mencatatkan diri sebagai koin kripto yang mengalami penurunan terparah, menurut data Coinmarketcap harga reli BTC selama 24 jam terakhir terpantau amblas sebanyak 8,31 persen 20.391 dolar AS.

Terpaut jauh dibandingkan apabila dengan harga di sesi sebelumnya dimana Bitcoin saat itu dipatok diatas 23.000 dolar AS.

Selaras dengan Bitcoin, Ether token yang berjalan di atas jaringan Ethereum, juga sebanyak 6,20 persen pada hari Selasa, tepatnya saat koin ini melakukan penggabungan pada 13 sampai 15 September.

Meski mampu mengantarkan koin terpopuler kedua di pasar ini menjadi aset yang paling hemat energi, namun semoga saja – tidak mampu mengangkat nilai Eter selama pasar saham bergejolak.

Tepat harga Ether jatuh di kisaran 1.600 dolar AS, dikutip dari CNBC International.

Penurunan serupa juga terjadi pada Dogecoin, meme koin bersimbol anak anjing ini terlihat beruang 4,74 persen menuju ke level 0.06045 dolar AS.

Dilanjutkan Cardano yang ikut terkerek turun sebanyak 4,21 persen 10,03 menjadi 0,474 dolar AS serta Solana yang amblas sebanyak 11,09 persen menuju ke harga 33,74 dolar AS.

Selain sederet kripto di atas, laporan merah juga terjadi pada dua altcoin lainnya seperti Polkadot yang harganya anjlok sebesar 4,53 persen menjadi 7,21 dolar AS, dan Shiba Inu yang terkerek 3,55 persen hingga harganya melesat jatuh di level 0,0000123 dolar AS.

Pasar yang tengah terjadi dalam pasar yang terjadi setelah inflasi atau Indeks harga konsumen (CPI) bulanan AS mencatatkan kenaikan diluar ekspektasi, dimana CPI melesat sebanyak 0,1 persen menjadi 8,3 persen secara tahunan (year-on-year) /yoy), pada Selasa (13/9/2022).

Kenaikan inflasi tentunya akan mendorong bagi bank AS untuk menilai sikap hawkish dengan mengerek naik suku bunga besar di pertemuan Federal Open Market Committee pada pekan depan, tepatnya pada tanggal 20 – 21 September nanti.

inilah yang membuat investor meninggalkan kompak aset – aset seperti pasar dan kripto, dan pengalihan aset yang aman demi menghindari terjadinya pembengkakan di tengah risiko ekonomi.